Sebagai catatan pembuka di tahun 2026, aku perlu membahas sebuah detail penting sebagai bentuk relevansi atas tiap-tiap postingan tulisan di blog ini ke depannya nanti. Walaupun sejak awal tahun ini, waktuku lebih banyak dihabiskan untuk bermain game, ketimbang baca buku dan belajar. Tapi itu urusan lain, karena toh aku juga suka aktivitas tersebut.
Nah, karena duniaku lebih banyak dihabiskan untuk menulis dan melihat tulisan, enggak heran kalau semua hal yang aku sukai dan pelajari lebih banyak terabadikan dalam bentuk tulisan juga, sebagaimana biasanya aku mengemasnya dalam format esay.
Pertama-tama, aku sedang giat belajar tentang sains. Tapi, aku enggak tiba-tiba langsung minat terhadap sains dalam sekejap waktu, ada latar belakang ceritanya yang cukup panjang. Intinya, ketertarikanku terhadap sains dimulai dari disiplin keilmuan yang sudah aku jalani di institusi pendidikan, lalu dari setiap proses belajar yang berusaha untuk memahaminya, rasa penasaranku muncul perlahan-lahan.
Jadi, setiap tulisan yang aku posting di sini nantinya, tentu saja merupakan hasil belajarku yang berusaha dikemas ulang dalam format esay yang menurutku cukup ringan. Namun, apa yang kelihatannya terkesan akademis, itu sama sekali enggak mencerminkan kebenaran ilmiah, apalagi valid disebut pengetahuan.
Aku membagikan tulisan di blog ini, semata-mata hanya melemparkan hasil belajarku. Kendati demikian, bukan berarti aku pesimis atas tulisanku sendiri, enggak. Justru, ketika nanti aku memposting tulisan-tulisan baru, aku lagi menguji pengetahuanku sendiri. Kalau memang beneran ada orang yang baca tulisan-tulisan di blog ini, harapannya ya semoga bisa kritis aja dalam menerima informasi.
Jadi, aku mau mulai pembahasan dari kebeneran ilmiah sains. Alasannya, karena aku lagi kagum-kagumnya belajar sains, sehingga aku sampai begitu terpukau dengan metode saintifik para ilmuwan dalam menjelaskan setiap fenomena. Kalau kita tahu, sains ini kan bekerja di ranah yang sifatnya materialistik, dalam artian bahwa semua kesimpulannya ditarik berdasarkan fenomena yang sudah terjadi, semua orang bisa melihatnya, jadi fenomena itu bisa dibuktikan, bisa diuji, dan bisa diverifikasi oleh semua orang. Nah, pembahasan ini juga menjadi poin penting sebagai pondasi atas dua tulisan yang sebelumnya sudah aku posting di blog ini.
Yang membuatku kagum sama sains tuh bukan karena perkembangan pesatnya di zaman sekarang, tapi intelektualitas para ilmuwan di zaman dulu yang berhasil menemukan cara-cara dalam mengajukan fenomena jadi sebuah pengetahuan. Tapi yang membuatku makin kagum sama sains tuh bukan karena ia selalu benar, tapi karena ia memiliki prosedur untuk mengakui kemungkinan salah. Terkait hal ini nanti akan dijelaskan lebih lanjut. Jadi, sains tuh nggak berangkat dari klaim kebenaran absolut, tetapi dari metode yang memungkinkan untuk dikoreksi.
Kalau kita tahu, orang-orang di zaman dulu tuh kalau ngelihat semua kejadian di alam semesta, mereka menyimpulkannya lewat mitos. Misalnya, pas ada petir di langit. Mereka menganggap petir itu adalah amarah para dewa. Kendati demikian, mitos tuh jadi sistem pengetahuan awal bagi umat manusia. Ia jadi sebuah upaya rasional pada masanya untuk memberi makna terhadap realitas yang belum dapat dijelaskan. Namun, ketika sebuah penjelasan keliru, nggak ada prosedur untuk membantahnya. Ia kebal dari kesalahan, dan justru di situlah letak masalah epistemologisnya. Pengetahuan yang tidak membuka ruang untuk salah, hanya akan membeku jadi dogma.
Sekarang masuk ke era filsuf Yunani, dari Thales, Anaximander, sampai Heraclitus, mereka mulai menanyakan apakah alam semesta ini tunduk pada prinsip rasional? Nah, di titik ini pengetahuan pelan-pelan mulai bergeser dari yang awalnya siapa jadi ke bagaimana. Dari yang awalnya "siapa yang bikin petir?" jadi "gimana prinsip di balik petir?". Artinya, sumber penjelasan berpindah dari yang awalnya otoritatif mitologis menuju hukum dan logos.
Sebelum lanjut lebih jauh, aku mau menegaskan satu hal bahwa alasanku mengagumi sains yang basisnya dari latar belakang pendidikan akademis, yakni filsafat, ya karena emang orang-orang filsafat zaman dulu itu dekat banget sama sains. Jadi ibaratnya kita bilang mereka filsuf ya sama aja kayak bilang mereka saintis, cuma karena zaman itu istilah sains belum ada dan tergabung sama filsafat naturalis, jadilah kita nyebut mereka tuh filsuf. Apa yang hari ini kita sebut sebagai sains modern, sebenarnya lahir dari filsafat alam melalui sebuah upaya reflektif mereka dalam memahami realitas secara rasional dan sistematis. Jadi, sains tuh bukan muncul sebagai lawan dari filsafat, tapi sebagai anak kandungnya, yang kemudian memisahkan diri karena kebutuhan metodologis.
Memasuki abad modern, upaya memahami alam semesta jadi semakin kompleks. Misalnya rasionalisme, begitu besar menempatkan kepercayaan pada akal sebagai sumber utama pengetahuan. Sedangkan empirisisme, menekankan pengalaman inderawi sebagai fondasi segala pengetahuan. Kemudian ada positivisme yang mencoba mereduksi pengetahuan, hanya berdasarkan pada fakta-fakta yang dapat diverifikasi secara empiris. Masing-masing pendekatan ini menawarkan kekuatan, tetapi juga menyimpan kelemahan mendasar. Misalnya pada rasionalisme, terlalu percaya sama kemampuan akal untuk menyingkap realitas. Empirisisme, nggak bisa menjamin bahwa pola masa lalu akan selalu berlaku di masa depan. Dan positivisme justru bisa menyempitkan pengetahuan hanya pada apa yang dapat diukur, dengan mengorbankan pertanyaan makna.
Makanya nanti muncul pertanyaan tentang batas antara sains dan bukan sains itu di mana? Karena sebenarnya ini bukan persoalan yang bisa berdiri sendiri. Ia berakar pada masalah yang lebih mendasar, yakni pada apa yang membuat sesuatu layak disebut sebagai pengetahuan. Persoalan ini tidak hanya muncul dalam diskursus ilmiah, tetapi juga dalam ranah pengetahuan sehari-hari yang bersifat personal.
Dalam konteks pengetahuan pribadi, kita kerap memperdebatkan apakah sebuah keyakinan bisa dianggap sah karena didukung oleh alasan-alasan yang kita sadari, atau cukup karena ia lahir dari proses kognitif yang bekerja dengan baik, meskipun kita tidak sepenuhnya memahami mekanismenya.
Nah, di awal abad ke 20, kelompok lingkaran Wina mencoba menjawabnya melalui gagasan verifikasi. Mereka percaya bahwa sebuah pernyataan baru bisa disebut ilmiah kalau bisa diuji langsung lewat pengalaman. Semakin mudah diverifikasi, maka akan jadi semakin ilmiah. Sederhananya, kalau tidak bisa dibuktikan lewat observasi atau eksperimen, ya itu bukan sains.
Kemudian nanti datang Karl Popper dengan gagasannya yang hampir berlawanan, doi bilang bahwa sains itu bukan soal ngumpulin bukti sebanyak-banyaknya untuk membenarkan teori. Tapi, sains itu adalah teori ilmiah yang berani salah. Yakni teori yang memberikan prediksi jelas dan bisa runtuh seketika kalau fakta tidak mendukungnya. Inilah inti dari falsifikasi.
Perbedaannya sederhana, bagi positivisme logis, teori akan kuat jika bisa diverifikasi. Sementara menurut Popper, teori akan kuat jika berani diuji dengan kemungkinan untuk gagal atau salah.
Kritik Popper terhadap positivisme logis ini akhirnya mengubah cara pandang kita dalam memahami sains. Melalui hal ini juga kita bisa ngerti kenapa falsifikasi bukan sekadar metode ilmiah, tapi juga gagasan besar sebagai bangunan epistemologi dalam filsafat sains.
Popper dalam bukunya The Logic of Scientific Discovery mengajukan kritik keras terhadap verifikasi dan induksi sebagai dasar metode sains. Doi ngelihat ada masalah mendasar dari cara kita membuktikan sebuah teori.
Pertama, masalah induksi. Popper ngasih contoh klasik dengan analogi, bahwa gak peduli seberapa banyak kita ngelihat angsa berwarna putih, mau itu setiap hari dan di mana pun, tapi kita gak bisa bisa memastikan bahwa semua angsa di dunia itu berwarna putih. Kalau cara berpikir kita berdasarkan bukti yang bisa dilihat bahwa ada banyak angsa putih di dunia ini, lalu kita mengajukan teori demikian, maka sekalinya ada satu angsa berwarna hitam, runtuhlah teori semua angsa berwarna putih. Jadi, seribu contoh tentang "iya", nggak sekuat satu contoh "tidak".
Kedua, kelemahan verifikasi. Popper ngerasa curiga terhadap teori-teori yang terlalu mudah dianggap benar. Dia mencontohkan psikoanalisis Freud dan Marxisme, dua teori besar yang kelihatannya selalu punya jawaban atas segala situasi. Bagi Popper, kalau sebuah teori bisa menjelaskan apapun yang terjadi, justru itu bisa jadi tanda bahaya. Karena berarti ia sebenarnya tidak menjelaskan apa-apa. Ini mirip kayak tipe teman yang selalu punya firasat akurat sama kita. Misalnya saat kita sukses, temen kita bilang bahwa firasatnya benar. Waktu kita gagal, temen kita bilang bahwa firasatnya dari awal udah curiga. Pada akhirnya kita lagi nggak dibuat kagum sama kecerdasannya, tapi sadar bahwa firasat teman kita itu sifatnya lentur banget, bisa dibelokin sesuai keadaan. Nah, Popper melihat hal yang sama ke teori-teori yang mengandalkan verifikasi: ketika sebuah teori terlalu fleksibel, maka ia berhenti jadi alat sains dan berubah jadi semacam ramalan horoskop versi akademik.
Dari semua itu, Popper mengambil posisi tajam bahwa kekuatan ilmiah sebuah teori tidak terletak pada seberapa mudah ia dibenarkan, tapi pada seberapa berani ia mengambil resiko untuk dibuktikan salah. Bagi Popper, teori ilmiah adalah teori yang pasang badan di hadapan bukti. Jika salah, ya udah, dia gugur dengan terhormat. Kalau bertahan, ia naik kelas jadi lebih kuat. Bukan karena benar, tapi karena belum terbukti salah. Dari sinilah kemudian lahir gagasan besar Popper tentang falsifikasi, sebuah cara pandang yang mengubah sains dari yang awalnya hanya mencari pembenaran, jadi mencari keberanian untuk diuji.
Menurut Popper, kalau kita mau menentukan mana yang benar-benar sains dan yang cuma kedengaran ilmiah, kita harus melihat apakah sebuah teori bisa dibuktikan salah? Bukan karena teori itu mudah dibenarkan.
Sesuatu dianggap ilmiah hanya ketika ia berani mengambil resiko empiris. Artinya, harus jelas kondisi seperti apa yang akan membuat teori itu salah. Teori gravitasi Newton adalah contoh teori yang sangat ilmiah karena membuat prediksi yang ketat, kalau planet bergerak dengan cara A, maka orbitnya bergerak dengan cara B. Tidak ada ruang untuk alasan berkilah. Ketika para astronom menemukan bahwa orbit Merkurius tidak sesuai prediksi Newton, itu langsung jadi tanda bahaya, dalam istilah Popper, teori Newton akhirnya terfalsifikasi. Bukan karena teori Newton salah total, tapi hanya kalah di medan tertentu. Dan dari kegagalan itulah Einstein maju membawa teori relativitas yang lebih akurat. Di sini sains bergerak maju justru karena ada teori yang berani salah. Makanya klaim psikoanalisis atau astrologi, itu gak bisa disebut ilmiah, karena gak ada kondisi jelas yang bisa menggugurkan klaimnya yang terlihat lentur dan fleksibel.
Popper menekankan bahwa sains bukanlah upaya membangun teori yang tidak bisa diganggu gugat, tapi sains adalah proses terus-menerus untuk mencari di mana teori kita keliru, lalu memperbaikinya. Ilmuwan yang baik adalah ilmuwan yang mencari cara dalam menghancurkan teorinya sendiri, bukan membentengi diri agar teori tersebut selalu terlihat benar. Di sinilah keindahan falsifikasi, yakni sebuah keberanian untuk salah, yang justru membuat sains jadi terlihat kuat.
Pendekatan Popper ini dikenal sebagai rasionalisme kritis, karena Popper percaya bahwa akal adalah alat terbaik kita untuk memahami dunia. Tapi akal tidak boleh dimanjakan, ia harus terus menerus diuji, dikoreksi, dan siap merevisi dirinya sendiri. Rasionalisme kritis mengajarkan kita untuk selalu punya ruang skeptis. Setiap klaim harus bisa dikritik dan diuji oleh bukti. Kemudian, Popper menolak ide bahwa sains menjadi besar karena mengumpulkan banyak kebenaran. Menurutnya, sains tumbuh justru karena berani membuang teori yang salah. Ketika teori gagal menjelaskan data baru, ia harus diganti oleh teori yang lebih kuat. Bukan karena teori baru pasti benar tapi karena sejauh ini ia yang paling tahan banting.
Pada akhirnya, rasionalisme kritis bukan sekadar metode berpikir, tapi juga sikap hidup. Ia mengajarkan kita kebiasaan intelektual yang sederhana tapi penting, bahwa jangan hanya mencari bukti yang mendukung keyakinan yang kita miliki, tapi cari juga bukti yang bisa menyanggahnya. Kalau kita cuma mau mencari pembenaran, kita akan selalu menemukan apa yang ingin kita lihat. Tapi ketika kita berani mencari sanggahan, barulah kita menemukan apa yang sebenarnya terjadi. Intinya, gunakan akal tapi jangan mudah percaya sama akal. Selalu uji, tantang, dan koreksi cara berpikir kita sendiri. Itulah inti rasionalisme kritis Popper, sekaligus fondasi dari sikap ilmiah yang autentik.
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)
.png)
0.png)